Postingan

Bahkan aku sendiri pun bingung dengan hidupku

Gambar
Tahun ini adalah tahun yang datang sebagai episode yang awalnya terasa penuh arti. Aku melewati banyak proses, jatuh bangun, dan pada akhirnya berhasil mencapai hal-hal yang selama ini hanya bisa kupikirkan sebagai mimpi. Rasanya seperti tahun yang memberi ruang untuk bangga dan bernapas lebih lega. Namun segalanya berubah seketika saat kabar itu datang: Dia membawa pergi orang terkasih. Dan sejak saat itu, segala yang sempat terasa besar dan membahagiakan akhirnya kehilangan maknanya. Dunia terus berputar, tapi hidup terasa sangat hambar. Orang-orang bicara tentang “ tabah ”, tentang “ ikhlas ”, seolah itu kata-kata sederhana yang bisa menenangkan luka sebesar ini. Padahal hanya satu hal yang terjadi: ada sesuatu yang dicabut dari hidupku, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Rumah menjadi tempat asing. Malam menjadi lebih panjang dari biasanya, dan siang hanya terasa seperti jeda dari gelap tadi malam. Yang paling menyesakkan bukan hanya ketiadaannya, tapi semua hal yang sehar...

Salamat Malam Kajadiang Ma

Gambar
Malam Kajadiang akhirnya datang kombali. Tapi kali ini akang datang bawa suasana yang sadiki berbeda dari taong-taong yang su lalu. Seng ada pulang kampung, seng ada babou kue karing, seng ada suara piring, deng yang paleng berharga tapi su seng ada lai adalah Mama.  Malam ini hanya beta deng satu buah lilin kecil di dalam kamar kos. Cuman bisa dudu baku lia sampe aer mata manetes di lante tagal cuma rindu kampong. Baru taong kamaring ada pulang beking Natal deng Mama, taong ini su seng bisa lai. Akang paleng barat  一 akang paleng saki. Kanapa taong ini pono-pono deng duka? di saat beta pung hari-hari bahagia yang mestinya ada Mama di samping, Mama batul-batul su seng ada. Carita yang pono deng suka akang barubah jadi duka. Kanapa la Tuhan? beta salah apa ka? Kalo bukang karna kehilangan, beta seng mungkin kaya orang ada bangepet. Kaluar bajalang pancuri orang pung tarang-tarang yang beta tau samua itu sama sha. Beking diri su kaya yang paleng hebat. Bajalang katawa kiri kanan...

Mama Pung Pasang

Gambar
Nyong, mari Mama bilang ini: Nanti kalo Mama pung talinga su seng bisa dengar bae-bae, Mama pung mata seng bagus lai par balia, deng kalu Mama pung langka ni akang su kaya jaga pohong karing yang anging su batiop akang...Mama minta dari Nyong, jang lupa Mama sio.. Mama pung kata-kata ini akang kaluar palang-palang. Akang paleng tipis di ujung idong, mar paleng barat su kaya janji-janji akhir yang Antua mau bilang sebelum waktu ni akang datang ambe sagala-gala. Lia par mama pung biji mata akang paleng angat, cuma par pastikan saja kalo katong batul-batul dengar Antua pung kata-kata. Mama tau dunia ni akang tarus baputar. Antua tau kalo beso-beso pas katong su basar, pasti katong akan pigi merantau kejar katong pe masa depan. Katong su baku muka deng dunia luas, bukang Mama pung kintal sapanggal di ruma yang tiap hari katong barmaeng di akang. Antua seng larang katong, Mama seng pernah tahang-tahang katong, kalo ini memang par katong pe masa depan. Cuma dari situ Mama pung pasang par kat...

Menua Adalah Janji yang Paling Jujur

Gambar
  Sebab indahnya cinta bukan soal pengakuan, bukan pula tentang siapa yang paling lantang berkata “ aku mencintaimu ,” atau siapa yang paling pandai merangkai janji. Cinta yang sejati tidak hidup dari kata-kata yang mudah diucapkan; ia bertumbuh dari keberanian yang jauh lebih sunyi, lebih kokoh, dan lebih langka. Cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal ketika dunia menawarkan seribu alasan untuk pergi. Ia adalah kemampuan untuk melihat kelemahan seseorang, namun memilih untuk tetap menggenggam tangannya. Di balik segala romansa dan gemerlap awalnya, cinta menemukan bentuknya yang paling murni pada kesediaan dua hati untuk menua bersama. Menua bukan hanya tentang rambut yang memutih atau langkah yang melambat. Menua bersama berarti melalui perubahan demi perubahan—melalui sakit, tawa, kecewa, harapan, dan kehilangan—tanpa pernah melepaskan satu sama lain. Itu adalah keberanian untuk tetap menjadi rumah, bahkan ketika waktu mengikis banyak hal. Keberanian untuk berpegangan, bukan...

Jika Ibu Melihatku Dari Sana

Gambar
  Bu, apa kabar di sana? Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali malam datang lebih sunyi dari biasanya. Aku tahu tidak ada jawaban yang akan turun dari langit, tapi tetap saja aku bertanya—seakan-akan suaramu bisa merayap menembus jarak yang tak terukur itu. Aku di sini..baik-baik saja. Mungkin tidak setiap saat. Mungkin juga tidak sekuat yang orang lihat, tapi aku belajar untuk tetap menjadi baik, setidaknya agar Ibu tidak ikut resah dari tempatmu kini berada. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Tentang hari-hari yang kadang terasa berat, tentang mimpi-mimpi yang masih kugenggam meski terasa goyah, tentang tawa yang mulai kembali tumbuh namun selalu berhenti di tengah jalan saat aku ingat Ibu sudah tidak ada untuk ikut mendengarnya. Aku ingin menumpahkan semuanya—kegelisahan, kebahagiaan kecil, rasa bangga, juga rasa lelah.  Tapi entah kepada siapa harus kuluapkan, karena tidak ada lagi sosok yang mendengarkan dengan mata yang hangat dan hati yang penuh sabar seperti Ibu...

Pulang Yang Terlambat

Gambar
  Ia selalu membayangkan pulang dengan membawa sesuatu di tangannya. Bukan hadiah mahal, bukan pula gelar yang tinggi, hanya secuil keberhasilan yang bisa membuat ibunya tersenyum bangga. Tetapi hidup berjalan lambat, sedangkan waktu berjalan terlalu cepat. Dan sebelum ia sempat membawa apa pun, sebelum ia sempat berdiri tegap di hadapan perempuan yang paling ia cintai, ibunya lebih dulu pergi. Pergi tanpa pesan, tanpa pelukan terakhir, tanpa sempat mendengar satu pun kata terima kasih yang selama ini tersangkut di tenggorokan anaknya. Ketika ia akhirnya kembali ke rumah itu, langkahnya terasa asing. Tidak ada lagi suara yang memanggil namanya. Tidak ada lagi tangan yang menyentuh kepalanya dengan lembut. Yang ada hanya sepi—sunyi yang seperti memeluk tubuhnya dengan dingin, sepi yang mengingatkan bahwa ia datang terlambat. Ia berdiri lama di depan foto ibunya. Senyum di foto itu seperti bertahan pada waktu yang sudah terputus. Di dalam hatinya, ia berbisik, “Maaf, Bu. Aku terlamba...

Teriak Yang Tidak Pernah Dijawab

Gambar
  Aku masih menjadi manusia paling berisik di dalam diriku sendiri—berteriak menuntut keadilan atas luka yang tak pernah mau sembuh. Luka itu bukan sembarang goresan; ia adalah retakan yang muncul sejak sosok paling berpengaruh dalam hidupku pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak kepergiannya, dunia seperti menutup satu jendela cahaya. Aku berjalan di antara bayang-bayang panjang yang diciptakan oleh kerinduan, memanggil-manggil nama yang kini hanya bergaung di kepalaku. Orang-orang berkata waktu akan menyembuhkan. Tapi bagaimana mungkin waktu bisa mengobati sesuatu yang bagian-bagiannya hilang bersama seseorang yang tidak akan kembali? Aku menghabiskan malam-malam dengan ributnya suara hati—bertanya kenapa dunia begitu kejam, kenapa aku yang harus kehilangan tempat pulang itu. Kadang aku marah pada hidup, kadang aku marah pada diri sendiri, kadang aku bahkan marah pada langit… seakan-akan langit punya jawaban yang mampu menghapus sunyi di dadaku. Dalam hatiku yang gelap, ...