Teriak Yang Tidak Pernah Dijawab
Aku masih menjadi manusia paling berisik di dalam diriku sendiri—berteriak menuntut keadilan atas luka yang tak pernah mau sembuh.
Luka itu bukan sembarang goresan; ia adalah retakan yang muncul sejak sosok paling berpengaruh dalam hidupku pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sejak kepergiannya, dunia seperti menutup satu jendela cahaya. Aku berjalan di antara bayang-bayang panjang yang diciptakan oleh kerinduan, memanggil-manggil nama yang kini hanya bergaung di kepalaku. Orang-orang berkata waktu akan menyembuhkan. Tapi bagaimana mungkin waktu bisa mengobati sesuatu yang bagian-bagiannya hilang bersama seseorang yang tidak akan kembali?
Aku menghabiskan malam-malam dengan ributnya suara hati—bertanya kenapa dunia begitu kejam, kenapa aku yang harus kehilangan tempat pulang itu. Kadang aku marah pada hidup, kadang aku marah pada diri sendiri, kadang aku bahkan marah pada langit… seakan-akan langit punya jawaban yang mampu menghapus sunyi di dadaku.
Dalam hatiku yang gelap, aku menuntut keadilan. Keadilan atas rasa sakit yang datang tiba-tiba, keadilan atas kehilangan yang mencabut pondasi hidupku, keadilan atas hampa yang menelan setiap langkahku sejak sosok itu tiada.
Namun sesering apa pun aku berteriak, tidak ada satu pun yang menjawab.
Akhirnya aku sadar: sebagian luka memang tidak diciptakan untuk sembuh. Sebagian luka hanya diciptakan agar kita belajar berjalan dengan rasa sakit yang menetap.
Dan aku… masih belajar.
Belajar menerima bahwa kehilangan tidak pernah adil.
Belajar memahami bahwa berisiknya hatiku hanyalah bukti bahwa aku pernah mencintai seseorang yang begitu berarti—sampai kepergiannya sanggup meruntuhkan seluruh duniaku.
Mungkin suatu hari suaraku tidak akan sekeras ini. Tapi hari ini, biarkan aku menjadi manusia yang berisik—sebab diam berarti aku telah berhenti merindukannya.
~yokipetra

Komentar
Posting Komentar