Jika Ibu Melihatku Dari Sana
Bu, apa kabar di sana?
Pertanyaan itu selalu muncul setiap kali malam datang lebih sunyi dari biasanya. Aku tahu tidak ada jawaban yang akan turun dari langit, tapi tetap saja aku bertanya—seakan-akan suaramu bisa merayap menembus jarak yang tak terukur itu.
Aku di sini..baik-baik saja.
Mungkin tidak setiap saat. Mungkin juga tidak sekuat yang orang lihat, tapi aku belajar untuk tetap menjadi baik, setidaknya agar Ibu tidak ikut resah dari tempatmu kini berada.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan.
Tentang hari-hari yang kadang terasa berat, tentang mimpi-mimpi yang masih kugenggam meski terasa goyah, tentang tawa yang mulai kembali tumbuh namun selalu berhenti di tengah jalan saat aku ingat Ibu sudah tidak ada untuk ikut mendengarnya.
Aku ingin menumpahkan semuanya—kegelisahan, kebahagiaan kecil, rasa bangga, juga rasa lelah. Tapi entah kepada siapa harus kuluapkan, karena tidak ada lagi sosok yang mendengarkan dengan mata yang hangat dan hati yang penuh sabar seperti Ibu dulu.
Kadang aku merasa berjalan sendirian di tengah kehilangan yang terus bertambah.
Namun di sela-sela itu, ada keyakinan kecil yang membuatku tetap bertahan: bahwa entah bagaimana, Ibu mungkin melihatku dari sana. Bahwa Ibu tahu betapa aku berusaha tumbuh meski dunia serasa mencabut banyak hal dariku.
Aku berjalan bukan hanya untuk diriku. Aku melangkah bukan hanya untuk masa depan. Aku berjuang karena aku ingin Ibu bangga—meski kini Ibu hanya bisa kupeluk lewat doa, meski semua kata rinduku hanya mampu terbang ke tempat yang tidak bisa kugapai.
Dan jika di sana Ibu bisa melihatku, aku berharap Ibu tahu bahwa aku masih belajar menjadi baik, belajar untuk tetap berdiri, dan belajar untuk hidup tanpa pelukan yang dulu menjadi tempat paling aman.
Aku tidak tahu apakah rinduku sampai. Tapi setiap hari, pasti aku tetap mengirimkannya.
~yokipetra

Komentar
Posting Komentar