Pulang Yang Terlambat

 

Ia selalu membayangkan pulang dengan membawa sesuatu di tangannya. Bukan hadiah mahal, bukan pula gelar yang tinggi, hanya secuil keberhasilan yang bisa membuat ibunya tersenyum bangga. Tetapi hidup berjalan lambat, sedangkan waktu berjalan terlalu cepat.

Dan sebelum ia sempat membawa apa pun, sebelum ia sempat berdiri tegap di hadapan perempuan yang paling ia cintai, ibunya lebih dulu pergi. Pergi tanpa pesan, tanpa pelukan terakhir, tanpa sempat mendengar satu pun kata terima kasih yang selama ini tersangkut di tenggorokan anaknya.

Ketika ia akhirnya kembali ke rumah itu, langkahnya terasa asing. Tidak ada lagi suara yang memanggil namanya. Tidak ada lagi tangan yang menyentuh kepalanya dengan lembut. Yang ada hanya sepi—sunyi yang seperti memeluk tubuhnya dengan dingin, sepi yang mengingatkan bahwa ia datang terlambat.

Ia berdiri lama di depan foto ibunya. Senyum di foto itu seperti bertahan pada waktu yang sudah terputus. Di dalam hatinya, ia berbisik, “Maaf, Bu. Aku terlambat dalam perjalanan.”
Ia ingin menjelaskan banyak hal—alasan kenapa ia tersandung, kenapa ia belum mampu menjadi kebanggaan, kenapa ia selalu merasa waktunya masih panjang—tapi semua itu kini terdengar seperti alasan yang tidak lagi penting.

Yang tersisa hanya doa; doa yang ia kirimkan dengan mata yang basah, dengan hati yang masih mencari sosok yang tak lagi bisa ia peluk. Doa yang ia jadikan jembatan antara duka dan harapan.

Namun di balik segala sesal itu, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Ia tidak lagi melangkah demi membuktikan siapa dirinya pada dunia, atau demi mendapatkan pengakuan yang dulu mati-matian ia kejar.

Kini ia berjalan dengan tujuan yang lebih tenang, lebih sunyi, lebih dalam walau sebenarnya berantakan. Ini dilakukan hanya untuk suatu hari bisa bertemu kembali dengan ibunya, di tempat di mana tidak ada lagi perpisahan, di mana waktu tidak lagi menjadi musuh, dan di mana segala yang tertunda akan akhirnya menemukan jawabannya. 

Sejak hari itu, setiap langkahnya bukan lagi tentang membuktikan keberhasilan—tetapi tentang merawat janji dalam hatinya: bahwa perjalanannya belum selesai, bahwa cintanya belum berhenti, dan bahwa suatu hari, ia akan pulang—bukan membawa prestasi, melainkan membawa dirinya yang telah belajar untuk tetap melangkah meski ditinggal pergi.


~yokipetra 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Nafas Seorang Pendosa

Mama Pung Pasang

Salamat Malam Kajadiang Ma