Bahkan aku sendiri pun bingung dengan hidupku

Tahun ini adalah tahun yang datang sebagai episode yang awalnya terasa penuh arti. Aku melewati banyak proses, jatuh bangun, dan pada akhirnya berhasil mencapai hal-hal yang selama ini hanya bisa kupikirkan sebagai mimpi. Rasanya seperti tahun yang memberi ruang untuk bangga dan bernapas lebih lega. Namun segalanya berubah seketika saat kabar itu datang: Dia membawa pergi orang terkasih. Dan sejak saat itu, segala yang sempat terasa besar dan membahagiakan akhirnya kehilangan maknanya.

Dunia terus berputar, tapi hidup terasa sangat hambar. Orang-orang bicara tentang “tabah”, tentang “ikhlas”, seolah itu kata-kata sederhana yang bisa menenangkan luka sebesar ini. Padahal hanya satu hal yang terjadi: ada sesuatu yang dicabut dari hidupku, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Rumah menjadi tempat asing. Malam menjadi lebih panjang dari biasanya, dan siang hanya terasa seperti jeda dari gelap tadi malam.

Yang paling menyesakkan bukan hanya ketiadaannya, tapi semua hal yang seharusnya sempat dilakukan namun tidak pernah terjadi. Ada kalimat yang kubiarkan menggantung terlalu lama dan ada perhatian yang kupikir masih bisa kutunda. Semua yang kulihat hanyalah kesempatan-kesempatan yang terbuang, detik-detik yang kini terasa seperti penghinaan. Penyesalan itu tidak sekadar menyakitkan tapi membusuk di dalam dada, menetes perlahan dan membuat setiap napas terasa berat.

Kehilangan ibu bukan luka yang berdarah di luar, tetapi luka yang menganga di dalam dan tidak akan pernah benar-benar menutup. Tidak ada doa yang terasa cukup. Tidak ada air mata yang terasa lega. Kadang dia harus bertanya, untuk siapa sebenarnya dia bertahan? Untuk apa hari-hari ini terus dipaksa berjalan, sementara bagian terpenting dari hidupnya sudah diambil tanpa belas kasihan?

Dan orang-orang bilang, “waktu akan menyembuhkan.” "Semua akan indah pada waktunya". Nyatanya, waktu hanya membuatku terbiasa hidup dengan rasa sakit—bukan malah menyembuhkannya. Aku belajar menjalani hari dengan hati yang kosong, dengan dada yang dingin, dengan jiwa yang tak lagi utuh. Aku terus berjalan bukan karena aku kuat, tapi karena dunia tak peduli apakah aku hancur atau tidak. Kehidupan terus bergerak, bahkan ketika aku masih terjebak di satu titik kehilangan yang sama.
Mereka harus tahu satu hal bahwa, ada bagian dari diriku yang mati dan terkubur bersamanya. Dan itu, tidak akan pernah ada yang bisa membangunkannya kembali atau bahkan menggantikannya.

Aku pernah berpikir untuk berpura-pura lupa tentang hal ini, agar kiranya di tahun depan semuanya akan terasa baik-baik saja. Tapi justru dengan berpura-pura, aku malah menipu diriku sendiri dengan semua kejahatan yang telah menimpa diriku. 
Kali ini walau langkah terasa seperti beban, dan setiap tawa terasa seperti kebohongan kecil yang kupaksakan agar tidak terlihat rapuh. Tahun ini akan tetap kujalani dan waktu ini akan tetap kuarungi dan kutapaki menurut versiku dan sesuka hatiku. 

Aku berharap kiranya Tuhan pun mengerti, bahwa aku seperti ini semuanya karena kehilangan yang Dia sendiri lakukan. Aku bisa saja pulang. Tapi bukankah tidak ada tempat bagi mereka yang kehilangan? Aku bukan hanya kehilangan rumah, tapi aku juga kehilangan jati. Itulah yang membuat hidupku terasa sangat berat. Jangankan mereka, bahkan aku sendiri pun bingung dengan hidupku.


~yokipetra 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Nafas Seorang Pendosa

Mama Pung Pasang

Salamat Malam Kajadiang Ma