Telunjuk Alam

 

Di balik ribuan potong kayu yang tumbang, tersembunyi isyarat alam yang tak lagi ingin berbisik. Ia menunjuk dengan tegas, telunjuknya seolah diarahkan tepat ke wajah para penguasa. Mereka yang dengan bangga menyebut diri pemimpin, namun tangan mereka penuh jejak luka bumi.
Gunung-gunung yang dulu utuh kini berongga, hutan yang pernah menjadi napas bagi banyak kehidupan berubah menjadi padang gersang tanpa suara. Alam telah menanggung terlalu banyak, tetapi seperti ibu yang sabar, ia bertahan… hingga batas kesabarannya pun habis.

Para penguasa itu tak pernah benar-benar melihat; mereka hanya menghitung. Menghitung kayu yang dijual, tanah yang digadaikan, sungai yang diarahkan ulang demi keuntungan. Mereka memotong hutan seakan memotong sehelai rambut—ringan, tanpa beban, tanpa pikir panjang. Mereka berdiri di mimbar kebesaran, berbicara tentang pembangunan dan kemajuan, sementara di bawah kaki mereka, bumi yang retak menangis tanpa suara. Mereka lupa bahwa alam bukan benda mati, melainkan makhluk besar yang menyimpan amarah lebih tua dari peradaban.

Dan ketika murkanya akhirnya pecah, ia tidak memilih siapa yang harus menjadi korban. Bukan para penguasa yang duduk nyaman di kursi kekuasaan yang menerima hantaman pertama, melainkan rakyat rendah yang tinggal di pinggir hutan, di bantaran sungai, di bawah bukit yang telah dipangkas habis. Hujan yang turun tanpa ampun, tanah yang kehilangan akar tak lagi kuat menahan tubuhnya sendiri. Rumah-rumah hanyut, keluarga terpecah, tangis anak-anak bercampur dengan deru air bah. Alam tidak melukai karena benci, tetapi karena keseimbangan yang dipaksa runtuh.

Rakyat kecil itu bertanya-tanya: Kenapa mereka yang harus menanggung dosa yang bukan mereka lakukan? Mereka hanya hidup dari apa yang disediakan alam, menghormati tanah yang diinjak, menjaga hutan yang menjadi tempat berlindung. Mereka bukan pencari laba, bukan penentu kebijakan, bukan tangan yang menggoreskan luka pada bumi. Namun di hadapan bencana, mereka adalah tubuh pertama yang terseret, jiwa pertama yang hilang, dan nama pertama yang muncul pada berita duka.

Sementara itu, para penguasa masih berdiri di balik meja kayu ukir yang ironisnya berasal dari hutan yang mereka jarah. Mereka bicara tentang mitigasi, tentang bantuan, tentang investigasi. Kata-kata mereka terdengar manis namun kosong seperti janji yang tak pernah ditepati. Mereka tidak melihat telunjuk alam yang kini semakin dekat, mengancam, dan jelas: “Berhenti. Atau kubuat kalian menjadi berita kematian selanjutnya.” Alam mengamuk dengan ancaman. Tapi bukankah tangan-tangan yang tak berdosa juga akan menanggungnya? 

Di akhir semuanya, bumi tetap diam—tetapi diamnya bukan tanda pasrah. Diam itu adalah peringatan, sebuah jeda sebelum amarah berikutnya datang. Sebab alam bukan musuh; ia hanya menuntut untuk dihormati. Dan selama keserakahan masih lebih keras daripada nurani, maka telunjuk alam tidak akan pernah berhenti mengarah—hingga akhirnya semua sadar bahwa yang mereka lawan bukan tanah, bukan air, bukan angin, melainkan hasil dari kemaksiatan mereka sendiri.


~yokipetra 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Nafas Seorang Pendosa

Mama Pung Pasang

Salamat Malam Kajadiang Ma