Paradoks Nafas Seorang Pendosa
Ia yakin bahwa jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada pula beban moral, tidak ada ketakutan, dan tidak ada lagi bayangan yang menuntutnya kembali pada jalan sempit itu. Ia mengira dirinya bisa menjadi raja di dalam kerajaannya sendiri—sebuah kekuasaan gelap yang mengizinkannya melakukan apa pun tanpa rasa bersalah.
Dalam pikirannya, ketiadaan Tuhan berarti kebebasan yang absolut. Namun pada kenyataannya, itu justru menjadi pintu menuju kekosongan yang lebih luas daripada apa pun yang pernah ia rasakan.
Ia mulai menapaki jalan itu, dan setiap langkah terasa seperti turun satu anak tangga menuju ruang yang tak bernama. Semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasakan bahwa kebebasan yang ia inginkan tidak membawa rasa lega; justru membawa rasa sepi—sunyi yang menusuk sampai ke sumsum tulang belakang.
Seakan-akan ia berjalan menuju jurang tetapi berharap menemukan hamparan kebebasan di bawahnya. Dan ketika ia semakin tenggelam dalam pelarian itu—dalam dosa yang ia peluk seperti sahabat paling setia—sebuah kenyataan mulai menyeruak dari kegelapan. Kenyataan yang tidak ia undang, tidak ia sukai, tetapi tidak bisa juga ia tolak: Bahwa untuk melakukan setiap pemberontakan yang ia banggakan, untuk menjalani setiap dosa yang ia rawat, ia tetap memerlukan nafas.
Nafas yang bukan miliknya. Nafas yang tidak bisa ia ciptakan. Nafas yang tidak pernah ia minta, tetapi terus diberikan.
Ironi itu sangat menyiksakan batin.
Ia ingin lepas dari Tuhan, tetapi ia tetap menggantung pada sesuatu yang berasal dari-Nya. Ia ingin menolak cahaya, tetapi jantungnya tetap berdetak oleh tangan yang tak bisa ia hindari. Ia ingin bebas dari segala campur tangan ilahi, tetapi setiap detik hidupnya adalah pemberian yang ia gunakan untuk menghinari Sang Pemberi.
Dan dalam gelap yang paling pekat—ketika seluruh dunia luar sudah tidak dapat mendistraksinya—hatinya akhirnya mengakui kenyataan itu dengan getir: bahwa bahkan pemberontakan membutuhkan anugerah. Bahwa bahkan kehancurannya sendiri masih berdiri di atas kemurahan yang tidak pernah ia syukuri.
Ia merasa seperti seorang tawanan yang berusaha merobek tirai penjara, hanya untuk menemukan bahwa dinding penjaranya adalah napasnya sendiri—dan untuk merobeknya berarti merobek hidupnya.
Dia akhirnya sadar bahwa keinginan untuk hidup tanpa Tuhan bukanlah kebebasan, melainkan bentuk lain dari keputusasaan. Keinginan untuk tenggelam tanpa diselamatkan. Keinginan untuk jatuh tanpa tangan yang menahan.
Tapi meski begitu, ia terus melangkah menjauh. Ada sesuatu yang memanggilnya kembali—bukan suara lantang yang memaksa, tetapi bisikan yang ia kenali sejak saat itu, bisikan yang membuat hatinya retak perlahan: Bahwa tidak ada tempat bagi mereka yang kehilangan, dan tidak ada rumah bagi mereka yang pulang dengan hati yang tak lagi utuh.
Mereka hanya belajar berjalan di dunia yang tetap sama, meski hidup mereka sudah berubah selamanya. Dan pada akhirnya, mereka bukan lagi mencari rumah—mereka hanya mencari alasan untuk tetap bertahan.
~yokipetra

Komentar
Posting Komentar