Ia Yang Belajar Berdiri Tanpa Bayangan Ibu


Sejak ibunya menghembuskan napas terakhir, dunia seperti kehilangan warnanya. Laki-laki itu berdiri di sisi ranjang rumah itu, menatap tubuh yang dulu menjadi rumah bagi setiap kegelisahannya. Di sana, ia merasa bukan hanya kehilangan seorang ibu—tetapi kehilangan tempat pulang yang tak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang aneh. Pagi terasa terlalu terang, malam terasa terlalu panjang. Ia bangun tanpa seseorang yang selalu menegurnya agar sarapan, tanpa suara lembut yang mengingatkan bahwa hidup tak harus sekeras itu. Ibunya dulu adalah rem dalam kehidupannya—sejenis kekuatan diam yang membuatnya tetap berada di jalur yang benar.

Ketika rem itu hilang, ia mulai meluncur jauh tanpa kendali.

Ia mencoba mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang sebenarnya tak pernah ia butuhkan. Masa depan ia biarkan berantakan. Teman-temannya mulai menjaga jarak. Ia menghabiskan malam-malamnya di luar rumah, menenggelamkan diri dalam keramaian yang tak pernah benar-benar menyembuhkan apa pun. Ia mulai memandang hidup seperti seorang musafir yang tersesat di padang luas tanpa kompas—hanya langkah yang dipaksa berjalan, tanpa arah yang pasti.

Ia tahu ibunya tidak akan bangga melihat keadaannya. Tapi rasa kecewa itu justru menambah berat di dadanya, seperti batu yang tak bisa ia lepaskan.

Suatu malam, ketika hujan turun pelan di luar jendela, ia membuka kembali sehelai baju hitam yang dulu milik ibunya. Bajunya masih sempurna menyimpan wangi samar yang sudah hampir hilang. Ia duduk di lantai, menjepit  itu di antara jari-jarinya, dan untuk pertama kali sejak pemakaman, ia menangis dengan suara yang tidak bisa ia tahan.

Itu bukan hanya tangis kehilangan. Itu adalah tangis karena ia sadar dirinya sedang jatuh… dan tak ada lagi sosok yang selama ini selalu mengulurkan tangan untuk menariknya kembali.

Namun di tengah keputusasaan itu, ia mulai mendengar sesuatu: bukan suara nyata, tapi sebuah ingatan yang berbicara dari dalam dirinya. Seperti gema yang pulang dari masa kecil, ia mengingat kalimat ibunya, “Jika suatu hari Mama tidak ada, kamu harus tetap jadi dirimu yang kuat. Air mata boleh jatuh, tapi jangan biarkan langkahmu berhenti.”

Suaranya samar. Tapi cukup.

Sejak malam itu ia mencoba berdiri lagi. Tidak langsung tegak; kadang ia masih goyah, kadang ia kembali jatuh. Namun sedikit demi sedikit, ia belajar untuk menahan napas, menatap hari esok, dan melanjutkan langkah.

Ia sadar bahwa ibunya mungkin telah pergi, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan dalam dirinya tidak ikut mati. Ada bagian dari ibunya yang terus hidup dalam setiap keputusan baik yang ia buat, dalam setiap keberanian kecil yang ia kumpulkan, dalam setiap kali ia menahan diri ketika hidup membawanya terlalu jauh.

Ia belum sepenuhnya kembali. Hidupnya belum sepenuhnya baik. Tapi ia mulai merasa bahwa kehilangan bukan hanya ruang kosong—melainkan tempat baru untuk menumbuhkan kekuatan yang dulu ia pikir tidak dimilikinya.

Dan meski malam-malamnya masih sunyi, kini ia berjalan dengan satu keyakinan:
bahwa cinta ibunya adalah sesuatu yang tidak pernah dikuburkan.


-yokipetra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Nafas Seorang Pendosa

Mama Pung Pasang

Salamat Malam Kajadiang Ma